Dusta, apapun warnanya, tetaplah dusta.”— nn 

      Jika hidung Anda bertambah panjang setiap kali Anda berkata dusta, akankah Anda berhenti berdusta? Pinokio adalah sebuah patung kayu yang diberikan sebuah kesempatan untuk diubahkan menjadi seorang manusia sungguhan dengan satu syarat— ia harus mendengarkan dan mengikuti kata hatinya. Setiap kali ia berdusta, hidungnya akan bertambah panjang.

      Pinokio bergumul dengan kata hatinya itu. Berulangkali ia dipaksa untuk membuat sebuah keputusan — memilih untuk berkata bohong atau dipermalukan — berkata bohong atau kehilangan beberapa kesenangan. Seringkali, Pinokio melihat bahwa berdusta adalah pilihan yang lebih baik daripada mengatakan kebenaran. Alhasil, seringkali pula ia meredam kata hatinya dengan berulangkali mengatakan kebohongan. Dan setiap kali ia berdusta, hidungnya bertambah panjang! Sebelum ia menyadari hal itu, hidungnya telah bertambah panjang melebihi satu kaki— ia pun kehilangan harapan untuk menjadi seorang manusia sungguhan.

Berdusta... Belajar dari kisah Pinokio

      Mungkin Anda juga berjuang keras melawan kebiasaan berdusta. Anda memiliki kuota penjualan untuk dicapai — satu-satunya cara untuk menutup hal itu adalah dengan membuat sebuah janji yang tidak akan pernah bisa Anda tepati. Anda memiliki batas waktu dan reputasi Anda menjadi taruhannya — Anda mengklaim bahwa sesuatu telah dikerjakan ketika sesungguhnya hal itu masih berupa rancangan di otak Anda. Anda mengasihi seseorang, dan Anda tahu bahwa kebenaran akan menyakitkan hatinya — maka Anda berdusta demi melindunginya. Seperti Pinokio, Anda berkata dusta, karena hal itu lebih mudah, dan sepertinya merupakan jalan keluar terbaik. Bagaimanapun juga, pada akhirnya dusta hanya akan membahayakan diri Anda, karakter dan identitas yang diberikan Allah kepada Anda. Anda tidak dapat terus-menerus berdusta dan mengharapkan dapat menikmati kehidupan penuh iman di dalam ketaatan kepada kehendak Allah karena…

“Engkau menuntut ketulusan hati…”

(Mazmur 51:6)

      Dusta adalah pernyataan tidak benar yang sengaja dikatakan dengan maksud untuk berbohong. Kata yang diterjemahkan sebagai “bohong” adalah kata Yunani pseudos, yang berarti “kebohongan atau dusta.” Lidah tidak bertulang terjadi jika tindakan berlawanan dengan apa yang dikatakan. Penyebab awal Berdusta antara lain karena natur manusia yang memiliki dosa, iri hati, haus dan penghargaan dan pujian. Setiap perkataan yang keluar dari mulut haruslah di dijaga karena berdusta di benci oleh Tuhan, dapat menghancurkan persatuan, menambah masalah, dan lain sebagainya. Untuk itu Mazmur 141:3 jelas dikatakan bahwa “Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!”

Beberapa tips agar terbebas dari perbuatan dusta:

- Temukanlah konsekuensi dari Allah terhadap dusta dan kebencian-Nya kepada penipu. (Mazmur 5:6)

- Milikilah hasrat untuk sepenuhnya jujur dengan diri sendiri dan ujilah motivasi hati Anda. (Mazmur 5:6)

- Putuskanlah untuk sepenuhnya jujur kepada Allah dan akuilah kegagalan Anda. (1 Yohanes 1:8)

- Cermatilah wilayah–wilayah godaan pribadi Anda. Berhenti dan pikirkanlah sebelum Anda menjawab. (Mazmur 141:3)

- Putuskanlah bahwa Anda ingin hidup yang mencerminkan Kristus, yang hidup di dalam Anda. (Roma 8:29)

- Bergantunglah pada kekuatan Kristus yang ada di dalam Anda untuk memampukan Anda berubah. (Filipi 4:13)

- Bersukalah di dalam kebenaran, yang lebih baik daripada di dalam dusta. (Amsal 28:13)

Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.”

(Amsal 28:13)