Takut adalah satu reaksi emosi yang mengganggu atas sakit atau bahaya yang mengancam yang menjadi kenyataan maupun atau hayalan belaka. Takut dapat rasional atau tidak rasional, normal atau tidak normal. Sedangkan fobia adalah rasa takut yang berlebihan, tidak rasional terhadap satu objek atau situasi. Kata fobia berasal dari bahasa Yunani phobos, yang berarti “rasa takut, melarikan diri atau mengerikan.”

Ketakutan. . . Kawan atau Lawan?

      Ketakutan dapat menjadi kawan atau lawan. Pada waktu mendapati diri berada di tengah badai yang menakutkan—entah itu dalam arti harfiah atau kiasan—ketakutan dapat menjadi suatu kekuatan yang melumpuhkan, dan mendorong seseorang masuk ke dalam kegelapan. Tetapi juga ia dapat menjadi motivator yang mendorong seseorang ke tempat yang lebih tinggi. Sementara badai semakin menggelora, ketakutan dapat mengunci pikiran, sehingga Anda benar-benar tidak dapat berpikir, atau sebaliknya dapat menjadi alarm yang memperingatkan untuk berpindah ke tempat yang aman. Jadi, peran apa yang dilakukan ketakutan di dalam hidup Anda? Apakah sebagai pengerem atau pendorong, kawan atau lawan? Apa yang Anda lakukan di tengah ketakutan Anda menandakan perannya di dalam hidup Anda. Daripada dilumpuhkan oleh ketakutan, izinkanlah ketakutan memindahkan Anda kepada sikap yang berserah kepada Tuhan. Datanglah kepada Tuhan sebagai satu-satunya tempat yang aman bagi Anda. Dia telah berjanji bahwa Dia bukan hanya akan menyertai Anda, melainkan juga akan memimpin Anda melewati ketakutan Anda.

"Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku. 2 Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, ataumelalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau. (Yesaya 43:1–2)

 

Ketakutan

 

      Salah satu penyebab ketaukutan itu terus dirasakan karena seringkali seseorang menghindari hal-hal yang dianggap menakutkan itu. Jika Anda terlalu sensitif terhadap suatu hal atau situasi, Anda perlu mengurangi sensitifitas Anda, karena hal ini dapat menjadi kunci menuju kebebasan. Mengurangi sensitifitas adalah proses menghilangkan respon ketakutan yang abnormal secara perlahan-lahan, dengan cara lebih mengekspos rasa takut itu. Anda dapat mengulangi langkah yang sama selama satu atau dua minggu atau sampai Anda tidak lagi menunjukkan reaksi emosi yang kuat, lalu lanjutkan ke langkah selanjutnya. Eksposlah secara berangsur-angsur rasa takut Anda: Berlatihlah menghadapi rasa takut Anda, ulangilah setiap langkah sekali lagi sampai menimbulkan reaksi Fobia sosial.

Contoh: Takut dalam memulai percakapan

— Berlatihlah mengajukan pertanyaan kepada petugas pemasaran.

— Mulailah mengucapkan “halo” sambil tersenyum.

— Dengarkanlah dengan cermat apa yang dikatakan orang lain.

— Bertanyalah hal yang sederhana kepada orang lain mengenai diri mereka.

— Buatlah komentar singkat mengenai diri Anda.

— Kembangkanlah minat yang tulus pada orang lain.

 

      Hal penting yang harus diingat adalah Allah yang mengendalikan hidup dan Dia selalu ada bersama dalam setiap langkah demi langkah. Seperti yang tertuang dalam Ulangan 31: 8 “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.”