Perkataan selalu mengandung kuasa. Dengan perkataan, Allah menciptakan dunia ini. Dan perkataan yang menjadi daging itu (Yohanes 1:14) telah menyelamatkan dunia. Perkataan dapat memberi kehidupan, perkataan juga dapat mengancam kehidupan. Perkataan akan memberi kehidupan bila ia memberikan inspirasi kepada kita untuk menjadi orang yang dikehendaki Allah . . . dan perkataan akan mengancam kehidupan bila ia menghancurkan harapan dan mimpi-mimpi kita. Dan akhirnya, perkataan dapat dikategorikan sebagai kekerasan bila perkataan itu melukai hati kita dan merusak hubungan kita. Alkitab berkata, Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya. (Amsal 18:21)

Kekerasan Verbal

Apakah Kekerasan Verbal Itu?

      Kekerasan verbal merupakan salah satu bentuk kekerasan emosi yang dilakukan melalui perkataan yang jelas. Seorang tukang kayu yang berpengalaman pasti sudah terlatih untuk menggunakan peralatannya, mengayunkan kapaknya berulang-ulang pada bagian yang tepat dari batang pohon sampai pohon itu tumbang. Kebanggaannya adalah bahwa ia dapat mengayunkan senjatanya tepat mengarah pada sasaran. Seperti itu juga, pelaku kekerasan verbal mengarahkan senjata lidahnya untuk menikam orang lain. Ia begitu terlatih dalam melukai hati dan jiwa orang lain. Maka orang-orang benar akan melihatnya dan menjadi takut, dan mereka akan menertawakannya: (Mazmur 52:6) Kekerasan verbal adalah penggunaan kata-kata yang menyakitkan atau nada suara yang tajam secara sistematis dan terus-menerus dalam upaya untuk mengendalikan atau menguasai orang lain.

      Kekerasan verbal, sebagai salah satu bentuk kekerasan, juga melibatkan perilaku yang buruk, penyalahgunaan sesuatu atau seseorang dengan sengaja. Kekerasan verbal selalu bersifat merusak. Engkau mencintai segala perkataan yang mengacaukan, hai lidah penipu! (Mazmur 52:4) Kekerasan verbal melukai perasaan orang lain dengan kata-kata cacian, hinaan dan kata-kata yang merendahkan. Istilah Ibrani untuk kata “caci maki” adalah gadaph, dari akar kata yang berarti “memotong” atau “melukai.” Bani Korah mengungkapkan penderitaan mereka atas kekerasan verbal yang mereka alami ketika mereka berkata, 16 karena kata-kata orang yang mencela dan menista, di hadapan musuh dan pendendam. 17. Semuanya ini telah menimpa kami, tetapi kami tidak melupakan Engkau, dan tidak mengkhianati perjanjian-Mu. (Mazmur 44:16-17) Kekerasan verbal seringkali dimaksudkan untuk melukai nama baik orang lain. . . — memakai taktik seperti fitnah, ejekan, atau kata-kata yang merendahkan — memakai strategi seperti umpatan, hinaan dan dusta Tetapi Allah akan merobohkan engkau untuk seterusnya, Ia akan merebut engkau dan mencabut engkau dari dalam kemah, membantun engkau dari dalam negeri orang-orang hidup. (Mazmur 52:5)