Apakah amarah telah menyelimuti Anda sehingga Anda melakukan segala sesuatu dengan gegabah dan akhirnya Anda hidup dalam penyesalan?
Bila Anda mencermati seluruh kehidupan Musa, maka Anda dapat melihat kekuatan amarah dan empat akibat yang ditimbulkannya, yaitu: ketidakadilan, luka, ketakutan, dan frustrasi. Akhirnya, Anda akan memilih antara beraksi dengan bijak atau bereaksi seperti orang bebal. Musa memilih keduanya. Dan seperti Musa, Anda dapat belajar untuk mengendalikan amarah Anda dan belajar untuk beraksi daripada bereaksi!
“Orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya, tetapi orang bijak akhirnya meredakannya.”
(Amsal 29:11)
Kemarahan Musa atas penganiayaan terhadap saudara-saudaranya dapat dimaklumi, tetapi apa yang ia lakukan dengan amarahnya membuatnya terlibat dalam masalah. Sangat disayangkan, Musa membiarkan emosi mengendalikannya. Ia menuruti hasratnya yaitu untuk melakukan pembunuhan. Meskipun Musa benar tentang ketidakadilan, reaksinya yang mudah berubah pendirian adalah salah. Tanggapannya yang reaksioner hanya mengungkapkan ketidaksiapan akan tugasnya sebagaimana yang telah dirancangkan oleh Allah. Sebagai konsekuensinya, Tuhan menghukum Musa selama 40 tahun di padang gurun sampai ia menyadari bahwa mengeluarkan bangsanya dari Mesir dengan mengandalkan kekuatannya sendiri tidak akan pernah berhasil.
“Pada sangkanya saudara-saudaranya akan mengerti, bahwa Allah memakai dia untuk menyelamatkan mereka, tetapi mereka tidak mengerti.”
(Kisah Para Rasul 7:25)
Apakah yang Anda kerjakan ketika Anda terbakar oleh perasaan dan pikiran yang penuh amarah? Para petugas pemadam kebakaran menyadari betapa berbahayanya jika membiarkan api lepas kendali. Mereka dilatih untuk merespon dengan cepat. Anda juga harus merespon dengan cepat untuk mengendalikan api amarah sebelum api itu membakar habis hidup Anda dan menghancurkan hubungan Anda.
“Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana, bersabar.”
(Amsal 14:17)
- Amarah adalah emosi yang kuat tentang kejengkelan atau gejolak yang terjadi jika terdapat kebutuhan atau harapan yang tidak dipenuhi.
“Si pemarah menimbulkan pertengkaran, dan orang yang lekas gusar, banyak pelanggarannya.”
(Amsal 29:22)
- Si pemarahseringkali digunakan untuk mendeskripsikan orang yang cepat marah di dalam Alkitab.
“Si pemarah membangkitkan pertengkaran, tetapi orang yang sabar memadamkan perbantahan.”
(Amsal 15:18)
Apakah marah itu Dosa ?
Tidak. Marah pada awalnya merupakan emosi yang diberikan oleh Allah. Yang menentukan dosa tidaknya amarah Anda adalah bagaimana cara Anda memberi respon atau mengekspresikan amarah Anda. Alkitab berkata:
“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.”
(Efesus 4:26 )
Amarah Anda adalah tanda bahwa adanya sesuatu yang salah... seperti lampu tanda peringatan berwarna merah pada dasbor mobil Anda. Tujuan lampu itu adalah untuk mendorong Anda agar bertindak… untuk mendorong Anda menghentikan mobil dan memeriksanya, kemudian melakukan tindakan yang tepat. Yesus menjadi marah atas kemunafikan dan kedegilan hati para pemuka agama. Sebagai akibatnya Dia menyembuhkan seorang laki-laki yang tangannya mati sebelah pada hari Sabat.
“Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: ‘Ulurkanlah tanganmu’ Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu.”
(Markus 3:5)
Bagaimana anda dapat mengatassi kemarahan anda:
- Lepaskanlah Hak Anda.
- Akuilah bahwa menyimpan amarah dalam hati Anda adalah dosa.
- Serahkanlah keinginan Anda untuk membalas dendam kepada Allah.
- Berdoalah agar Allah bekerja di dalam Anda dan orang yang menyakiti Anda dan untuk mengubah hati Anda terhadap orang yang telah melukai Anda.
- Lepaskanlah orang yang melukai Anda ke dalam tangan Allah— ampunilah seperti Allah telah mengampuni Anda.
“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”
(Kolose 3: 13)
- Bersukacitalah dalam Rencana Allah.
- Bersyukurlah kepada Allah untuk jalan-Nya yang akan Dia gunakan dalam setiap pencobaan yang Anda alami.
- Sadarilah bahwa Allah dapat memakai amarah Anda yang tidak terselesaikan untuk kebaikan Anda dan orang-orang di sekitar Anda.
- Muliakanlah Allah atas komitmen-Nya untuk memakai semua keadaan di dalam hidup Anda demi mengembangkan karakter Kristus di dalam Anda.
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. 29 Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya...”
(Roma 8:28-29)
- Cerminkanlah Kasih Kristus.
Berupayalah dengan aktif untuk mencerminkan kasih Allah terhadap orang yang menyakiti Anda.
- Berdoalah dalam hati...
“Tuhan, tolonglah aku untuk berserah kepada kendali-Mu.”
“Tuhan, tunjukkanlah kepadaku pikiran-Mu untuk mengarahkan pikiranku.”
“Tuhan, cerminkanlah sikap-Mu dalam tindakanku.
“Tuhan, tuntunlah kata-kataku untuk menyatakan kasih-Mu.”
“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
(Yohanes 13:34-35)